Tri Endang Kustianingsih

Tri Endang Kustianingsih, lahir di Balikpapan 41 tahun yang lalu. Bekerja di Dinas Pendidikan Kota Surabaya....

Selengkapnya
MEMBANGUN KREATIVITAS DAN IMAJINASI SISWA  MELALUI LITERASI BACA TULIS DENGAN MEDIA SCRAPBOOK

MEMBANGUN KREATIVITAS DAN IMAJINASI SISWA MELALUI LITERASI BACA TULIS DENGAN MEDIA SCRAPBOOK

MEMBANGUN KREATIVITAS DAN IMAJINASI SISWA

MELALUI LITERASI BACA TULIS DENGAN MEDIA SCRAPBOOK

Oleh Tri Endang Kustianingsih

Istilah literasi dalam bahasa latin disebut sebagai Literatus yang artinya adalah orang yang belajar. Selanjutnya National Institut for Literacy sendiri menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Berkenaan dengan literasi pemerintah telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah untuk membudayakan membaca dan menulis. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 dengan tujuan memperkuat budi pekerti siswa.

Wujud Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah membaca selain buku pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Melalui GLS, diharapkan siswa terbiasa untuk membaca. Selanjutnya, dapat mengambil nilai-nilai moral dari buku yang dibaca. Selain siswa terbiasa membaca siswa diharapkan juga dapat menulis. Begitu pentingnya membaca sehingga pemerintah pun bertanggung jawab terhadap keberhasilan program GLS.

Mengapa membaca dan menulis itu penting? Membaca dan menulis itu penting karena tujuan membaca dan menulis itu sendiri adalah 1) sebagai kunci mempelajari ilmu pengetahuan; 2) untuk meningkatkan kemampuan berbahasa; 3) meningkatkan kreativitas dan imajinasi; 4) meningkatkan empati; 5) meningkatkan konsentrasi dan fokus; 6) Mengurangi stress; 7) mengembangkan minat pada hal-hal baru; dan 8) sebagai hiburan. Untuk mencapai tujuan membaca dan menulis di atas ada banyak jenis literasi yang mendasar yang dapat diterapkan untuk siswa di sekolah yaitu literasi baca tulis. Literasi baca tulis adalah kemampuan untuk memahami isi teks tertulis baik yang tersirat maupun tersurat, dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri. Menuangkan gagasan dan ide ke dalam tulisan dengan susunan yang baik untuk berpartisipasi di lingkungan sosial. Untuk menuangkan gagasan dan ide ke dalam tulisan memang dibutuhkan proses yaitu proses literasi.

Proses literasi diawali dengan membaca dan menulis bersuara, membaca dan menulis terpandu, membaca dan menulis bersama, membaca dan menulis mandiri. Tahapan-tahapan dalam proses literasi ini tidak terjadi dengan begitu saja tetapi membutuhkan waktu dan daya dukung dari berbagai pihak yaitu kemampuan siswa sendiri, perhatian orang tua pada anak membantu belajar di rumah, guru dalam proses pembelajaran, manajemen sekolah, dan program pemerintah. Jika daya dukung tersebut bersinergi dengan baik maka pada proses membaca dan menulis mandiri melalui GLS dapat dengan mudah terlaksana.

Artinya gerakan literasi tidak berhenti pada proses membaca dan menulis rangkuman buku saja, tetapi bagaimana hasil dari mencerna buku itu dapat dieksplorasi siswa dalam menuangkan gagasan dan idenya dengan bahasanya sendiri. Dalam hal mengeksplorasi ini siswa membutuhkan stimulus/rangsangan baik itu berupa media maupun peran guru untuk mengarahkan kreativitas siswa. Banyak media yang dapat digunakan diantaranya adalah dengan menggunakan barang sisa yaitu kertas dan pensil warna. Media kertas ini dilipat menjadi beberapa bagian halaman sehingga terbentuk seperti buku notes yang digunakan untuk menulis sedangkan pensil warna digunakan untuk menggambar tokoh cerita atau melukis latar cerita yang diimajinasikan. Media ini dikenal dengan sebutan scrapbook. Oleh karena itu tulisan ini menekankan pada bagaimana meningkatkan kreativitas dan imajinasi siswa melalui literasi baca tulis dengan media scrapbook.

Apa itu scrapbook? Dari asal katanya scrap berarti barang sisa. Definisi scrapbook adalah seni menempel foto atau gambar di media kertas, dan menghiasnya hingga menjadi karya kreatif. Kegiatan scrapbooking menjadi sutau gaya hidup di amerika sekitar 20 tahun lalu. Di Asia baru berkembang enam tahun terakhir ini. Kegiatan yang mengasyikkan ini merupakan penuangan ekspresi dari si penulis/pembuat yaitu perpaduan antara keterampilan seni menempel kertas, foto,
dan gambar dengan seni memadukan warna, motif-motif unik sesuai keinginan pembuatnya. Dari kegiatan menempel tersebut menghasilkan karya-karya seperti lukisan. Akan tetapi di sini scrapbook yang dijadikan sebagai media menulis adalah murni dari hasil gambar/lukisan siswa.

Lalu bagaimana dengan proses menulis siswa? Dengan proses membaca siswa setidaknya mereka sudah mempunyai banyak perbendaharaan kata. Kemudian guru mengarahkan siswa untuk menemukan dan menentukan satu tema yang akan dijadikan tulisan dengan melihat, mengamati, merasakan, dan membaca lingkungan sekitar mereka. Karena untuk memudahkan siswa dalam menuangkan idenya diawali dengan hal-hal kecil yang biasa mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama adalah mengidentifikasi sebuah benda atau objek yang akan dijadikan sebagai bahan tulisan. Contohnya adalah mendeskripsikan tentang keluarga mereka, di sana ada ayah, ibu, kakak dan adik. Mereka diarahkan untuk melukiskan dengan kata dan kalimat bagaimana wajah ibu, ciri khasnya, hobinya, kegiatan sehari-hari, dan mengapa memilih ibu sebagai objek tulisannya. Selain itu objek tulisan lainnya adalah flora atau fauna yang sangat disukai. Misalnya saja bunga anggrek, siswa diarahkan untuk mendeskripsikan ciri khas bunga anggrek dari sisi bentuknya, warnanya, baunya dan lain sebagainya. Gagasan dan ide inilah yang ditulis dalam media scrapbook. Setelah selesai ditulis, siswa diarahkan untuk melukis/menggambar objek tokoh center atau latar yang mendukung cerita/tulisan.

Dari tulisan yang sederhana ini siswa sudah dapat membuat sebuah karya kreatif dari proses identifikasi dan pendeskripsian suatu objek. Semoga dengan tulisan ini dapat memotivasi anak-anak Indonesia untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka di mulai dari lingkungan keluarga dan sekitarnya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali